Konsistensi dalam Setiap Rasa: Peran Standarisasi Sensoris Produk di Balik Quality Control

Saat Anda belanja ke supermarket dan membeli biskuit favorit Anda, tentu saja Anda sudah tahu bagaimana rasa biskuit tersebut–teksturnya, aromanya, manis dan gurihnya. Pernahkah Anda berpikir, mengapa rasa tersebut bisa terus sama, bahkan setelah berpuluh-puluh tahun?

Alya Fauzi, QA/QC

3/9/20264 min read

brown cookies on white surface
brown cookies on white surface

Saat Anda belanja ke supermarket dan membeli biskuit favorit Anda, tentu saja Anda sudah tahu bagaimana rasa biskuit tersebut–teksturnya, aromanya, manis dan gurihnya. Pernahkah Anda berpikir, mengapa rasa tersebut bisa terus sama, bahkan setelah berpuluh-puluh tahun? Dalam industri pangan, kualitas bukan hanya tentang hasil uji di laboratorium. Di balik setiap produk yang sampai ke tangan konsumen, mereka merasakan langsung melalui rasa, warna, aroma, dan tekstur yang konsisten selama dikonsumsi.

Sebagai perusahaan yang terus berkembang, menjaga konsistensi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab kami kepada client dan calon client. Disinilah peran tim Quality Control (QC) menjadi krusial. Dari bahan baku datang hingga produk siap didistribusikan, tim QC memastikan setiap batch produksi memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Dalam blog ini, kami ingin berbagi proses pengambilan keputusan oleh tim QC tentang kualitas produk melalui evaluasi sensoris dengan membuat standarisasi sensoris produk. Berikut adalah tahap-tahap yang perlu dilakukan:

1. Melakukan Research Awal

Sebelum melakukan standarisasi produk, kami mendalami karakteristik produk secara menyeluruh.

  • Aroma yang menjadi ciri khas seperti apa?

  • Profil rasa yang seperti apa?

  • Warna seperti apa yang menjadi identitasnya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kami juga merujuk pada berbagai referensi ilmiah agar standar yang ditetapkan lebih objektif.

Contohnya pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa karakter aroma khas hojicha terbentuk dari senyawa volatil yang muncul selama proses pemanggangan daun teh. Senyawa seperti 2,3-diethylpyrazine dan 2,3-diethyl-5-methylpyrazine diketahui berkontribusi terhadap munculnya aroma roasty dan woody pada teh hojicha (Tan et al., 2019). Informasi ini membantu tim QC memahami karakter aroma yang seharusnya muncul pada produk, sehingga dapat dijadikan acuan dalam proses standarisasi sensoris.

2. Menentukan Atribut Sensoris yang Muncul

Setelah memahami karakteristik produk dengan baik, kami mengidentifikasi atribut sensoris dari Kenampakan (Appearance) hingga Sensasi akhir di mulut (Mouthfeel) yang muncul pada produk. Pendekatan dilakukan secara evaluasi internal dan referensi, agar standar sensoris produk yang disusun memiliki dasar yang kuat. Deskripsi ini tentu akan berbeda tergantung karakteristik dari suatu produk; untuk produk yang mementingkan aroma, maka deskripsi aroma harus lebih lengkap, dan seterusnya. Hasil analisa sensori ini bisa dirangkum dalam sebuah dokumen Deskripsi Standar Atribut Sensori Produk yang menjadi dasar awal, dalam dokumen standarisasi sensoris produk.

3. Menentukan Skala Standar Atribut Sensoris Produk

Dalam evaluasi sensoris, terdapat berbagai variasi skala yang dapat digunakan. Salah satunya adalah skala numerik, yang sering digunakan karena praktis dan mudah dipahami, misalnya dalam kegiatan quality control. Selain itu, terdapat juga skala garis (line scale) yang memungkinkan panel memberikan penilaian dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi. Skala ini biasanya digunakan dalam pengembangan produk baru, misalnya untuk membandingkan formula dengan produk kompetitor.

Skala Garis

Pada proses standarisasi sensoris produk ini digunakan skala numerik 1–5. Melalui skala ini, atribut seperti kenampakan (appearance), aroma, rasa, flavor, dan mouthfeel dapat dinilai berdasarkan tingkat intensitas berikut:

Skala 1: Intensitas sangat lemah atau tidak terdeteksi, belum mencerminkan profil produk

Skala 2: Intensitas lemah, karakter produk mulai muncul namun belum jelas

Skala 3: Intensitas seimbang dan sesuai dengan profil produk yang diharapkan

Skala 4: Intensitas tinggi namun masih sesuai dengan karakter produk

Skala 5: Intensitas sangat tinggi dan tidak sesuai dengan profil produk

Dengan adanya skala ini, proses evaluasi sensoris dapat dilakukan secara lebih objektif dan konsisten, sehingga tim QC dapat memastikan bahwa karakter produk tetap sesuai dengan standar sebelum didistribusikan ke konsumen.

4. Pengujian dan Validasi Internal

Setelah memiliki acuan atribut sensoris dan skala, maka perlu dilakukan pengujian untuk memastikan standar yang dibuat sudah relevan dan dapat diterapkan. Dalam proses ini, tim QC mengandalkan retained sample, atau hasil produksi yang disisihkan, sebagai pembanding. Dari produksi sebelumnya, dibandingkan dengan produksi terbaru untuk mengetahui variasi karakter yang mungkin terjadi, misalnya: warna, aroma, dan rasa.

Dari pembandingan ini, kami mengetahui karakter produk mana yang paling mewakili sebagai standar ideal. Karakter ini kemudian dijadikan titik tengah untuk menentukan skala penilaian. Variasi karakter yang lebih rendah maupun lebih tinggi dari standar ini kemudian dipakai sebagai acuan untuk menentukan rentang skala penilaian, sehingga setiap tingkat penilaian memiliki gambaran yang jelas dan realistis.

Hasil: Visualisasi warna sebagai referensi skala

5. Implementasi Dokumen Standarisasi Sensoris Produk

Setelah standar atribut sensori produk tervalidasi, maka dokumen tersebut akan digunakan untuk menguji hasil produksi produk tersebut. Dengan standar yang sudah teruji, penjagaan kualitas produk lebih terjamin dan efisien.

Pada akhirnya, standarisasi sensoris bukan sekadar tentang skala dan dokumen. Ini adalah cara kami menjaga konsistensi rasa dan pengalaman yang diterima konsumen di setiap produk yang dihasilkan. Kualitas rasa yang baik adalah kualitas yang sudah teruji waktu.

PT Winnlet Intermix Arunika hadir untuk membuat pekerjaan pelaku bisnis makanan menjadi lebih sederhana. Kami menyediakan produk-produk tahan lama yang mudah digunakan, stabil, dan dirancang untuk membantu Anda bekerja lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas. Rangkaian produk kami seperti whipped cream bubuk, custard bubuk, premix minuman dan soft serve ice cream, dibuat untuk mempercepat dan meningkatkan proses kerja Anda. Silahkan konsultasikan kebutuhan bisnis makanan Anda dengan kami melalui email ke inquiry.arunika@gmail.com.