Mulai dari Nol - Proses Pengembangan Produk Baru
Proses pengembangan produk baru adalah tahap yang paling menarik dalam perjalanan bisnis. Di fase ini, banyak hal masih belum pasti sehingga peluang terasa sangat luas. Namun, tanpa tujuan yang jelas, energi, kreativitas, dan modal awal dapat terbuang percuma. Karena itu, setiap proses pengembangan produk perlu dijalankan dengan kesadaran akan risiko dan peluang dari setiap keputusan.
Tim Arun
11/21/20253 min read


Proses pengembangan produk baru adalah tahap yang paling menarik dalam perjalanan bisnis. Di fase ini, banyak hal masih belum pasti sehingga peluang terasa sangat luas. Namun, tanpa tujuan yang jelas, energi, kreativitas, dan modal awal dapat terbuang percuma. Karena itu, setiap proses pengembangan produk perlu dijalankan dengan kesadaran akan risiko dan peluang dari setiap keputusan.
Sebagai perusahaan yang baru, kami juga melewati proses yang sama: menginvestasikan waktu, tenaga, dan modal untuk mengembangkan produk baru. Kami mempelajari kondisi pasar, mengidentifikasi kebutuhan yang bisa kami penuhi, lalu menyesuaikannya dengan idealisme dan kapasitas kami. Dalam blog ini, kami ingin berbagi tahap awal perjalanan product development kami.
1. Mengembangkan Ide Awal
Apa yang harus kami buat? Pertanyaan ini sering muncul ketika katalog produk kami masih kosong. Di titik ini, ibarat bola di puncak lereng, energi potensialnya besar—yang diperlukan hanyalah arah yang tepat agar bisa menggelinding jauh.
Dari mana ide muncul?
“Malu bertanya sesat di jalan,” peribahasa yang masih relevan saat sekolah ataupun di tempat kerja. Dengan adanya media sosial, jaringan pelaku bisnis horeca, hingga calon konsumen, kami mendapatkan banyak insight tentang peluang produk yang bisa dikembangkan. Pertanyaan utamanya adalah: Apa kebutuhan pasar yang bisa dijawab oleh produk ini? Masukan dari calon pembeli sangat membantu agar kami tidak tersesat dalam proses riset berikutnya dan menjadi motivasi bagi kami untuk mengembangkan produk tersebut.
Bagaimana mengerucutkannya?
Sebagai perusahaan lokal yang baru, kami mengutamakan pengendalian risiko. Kami menggunakan metode klasik seperti analisis SWOT untuk mengidentifikasi peluang terbesar dan risiko terkecil. “Apakah pasar sudah jenuh? Bagaimana produk ini akan diadopsi oleh horeca? Masalah apa yang bisa diselesaikan oleh produk ini?” Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi acuan kami.
Di tahap ini, kami juga mempertimbangkan apa yang membedakan kami dari kompetitor. Salah satu prinsip yang kami pegang adalah mengutamakan bahan natural, terutama untuk rasa. Dengan menyeimbangkan idealisme dan realita pasar, kami akhirnya menemukan target pasar yang paling sesuai.
Hasil: Konsep produk yang jelas dan dapat diproduksi.
2. Pelaksanaan Konsep
Ketika konsep produk sudah terbentuk, proses pengujian dimulai. Banyak percobaan dilakukan—dan tidak sedikit yang gagal—namun setiap percobaan membawa kami lebih dekat ke hasil akhir.
Warning 1: Bahan
Memilih bahan memerlukan waktu panjang. Semakin banyak sampel dicoba, semakin besar kemungkinan menemukan bahan yang paling tepat—meski banyak juga yang hampir identik. Setiap bahan perlu diuji melalui beberapa aspek:
● Regulation test: Apakah pabrik pemasok terpercaya? Apakah produk memiliki sertifikat halal yang berlaku di Indonesia?
● Sensory test: Bagaimana rasa dan aromanya? Bagaimana perilakunya dalam berbagai suhu, pH, atau saat dipadukan dengan bahan lain?
● Feasibility: Apakah harga dan MOQ sesuai dengan target harga akhir dan kemampuan beli customer?
● Sustainability: Apakah bahan ini dapat diakses secara berkelanjutan, idealnya melalui produsen lokal, serta berasal dari rantai pasok yang bertanggung jawab?
Warning 2: Aplikasi Lapangan
Karena target kami adalah horeca, produk harus mudah diaplikasikan di kondisi lapangan. Kami menyesuaikan formulasi dengan peralatan, proses kerja, serta kebutuhan menu customer agar pemakaian produk tidak memerlukan investasi baru yang membebani mereka.
Warning 3: Waktu
Proses R&D bisa berjalan panjang, sehingga penting menetapkan timeline jelas bersama customer atau internal. Dalam periode tersebut, masukan dari target customer sangat krusial agar arah pengembangan tetap relevan.


Hasil: Produk siap dirilis.
3. Uji Pasar
Tahap uji pasar sangat dipengaruhi faktor eksternal, terutama dalam bisnis B2B. Mulai dari menu yang dirilis oleh customer, harga yang mereka tetapkan, hingga tren pasar yang cepat berubah, semua adalah faktor di luar kendali kami. Di fase ini, penting bagi kami untuk merespons masukan dengan cepat. R&D tidak berhenti meskipun produk sudah beredar: formulasi bisa disesuaikan, bahan dicari ulang untuk mengamankan pasokan, atau dilakukan evaluasi rasa dan harga agar tetap kompetitif.
Hasil: Kepuasan customer, konsistensi kualitas, dan keberlanjutan bisnis.
Seperti tim riset lainnya, kami memiliki tanggung jawab untuk terus berkembang. Kami menyadari bahwa kami masih berada di tahap awal perjalanan dan harus mengikuti perkembangan teknologi serta tren untuk menghadirkan produk terbaik bagi customer. Seiring waktu, kami berkomitmen meningkatkan standar kualitas dan keberlanjutan agar tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan di industri makanan.
PT Winnlet Intermix Arunika hadir untuk membuat pekerjaan pelaku bisnis makanan menjadi lebih sederhana. Kami menyediakan produk-produk tahan lama yang mudah digunakan, stabil, dan dirancang untuk membantu Anda bekerja lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas. Rangkaian produk kami seperti whipped cream bubuk, custard bubuk, premix minuman dan soft serve ice cream, dibuat untuk mempercepat dan meningkatkan proses kerja Anda. Silahkan konsultasikan kebutuhan bisnis makanan Anda dengan kami melalui email ke inquiry.arunika@gmail.com.




